Saturday, October 13, 2018

Memilih Telur Yang Baik, Menghasilkan Benih Ukuran Kuku, Menetaskan Telur, Memelihara Larva, Panen Kelungking Atau Jempol?, Untuk Atau Rugi

Bagi para pemula di budidaya gurami, memulai usaha dapat dilakukan dengan membeli telur. Setelah itu, pembudidaya menetaskan telur dan membesarkannya sampai ukuran kuku (0,5 - 1 g/ekor). Benih ukuran tersebut sudah bisa dijual karena banyak ditunggu oleh konsumen.

MEMILIH TELUR YANG BAIK

Telur gurami bisa didapatkan dengan membelinya dari pembenih. Namun untuk mengetahui kualitas telur yang baik, pembudidaya harus mengetahui kriterianya. Ciri-ciri telur gurami yang baik antara lain berwarna kuning bening/transparan. Selain itu, telur yang hidup dan sehat biasanya akan berjumlah 100 butir jika diletakkan secara horizontal sepanjang 25 cm. Sementara itu, telur yang rusak memiliki warna kuning.
susu dan tidak transparan.Telur yang mati sebaiknya segera dibuang karena akan segera ditumbuhi jamur dan bisa menulari telur lain jika tidak segera dipisahkan.
B. WADAH
Wadah yang dapat digunakan bisa berupa baskom, potongan drum, akuarium, kolam terpal, kolam tanah, atau kolam beton. Semua wadah tersebut tentu saja dapat dibangun atau di-setting di pekarangan rumah.

Drum atau toren yang digunakan sebagai wadah penetasan dan perawatan larva sebaiknya dibelah menjadi dua sehingga penggunaannya lebih praktis dan tidak memakan tempat. Sementara jika menggunakan akuarium sebagai wadahnya, proses persiapannya cukup mengisi air sampai batas optimal. Kemudian, diaerasi untuk menaikkan kandungan oksigen terlarut dan menstabilkan kondisi air. Untuk telur, tinggi air dalam akuarium cukup 10-15 cm. Sementara itu, untuk pemeliharaan larva sampai menjadi benih berukuran kuku, tinggi air di dalam akuarium cukup setinggi 30-40 cm.

Pada penggunaan kolam tanah, biasanya baru diaplikasikan pada telur yang sudah menetas menjadi larva dan berumur 8-10 hari. Benih ditebar dengan kepadatan sekitar 150-200 ekor/m2. Untuk kolam beton dan kolam terpal aplikasinya tidak terlalu jauh berbeda dari kolam tanah. Perbedaannya terletak pada bahan pembuat, kepraktisan, dan daya tahannya.

Dari semua wadah yang telah disebutkan, baskom bisa dijadikan pilihan utama sebagai wadah penetasan telur. Selain investasinya murah, penggunaannya lebih efektif jika mengacu pada lahan yang sempit. Baskom dapat ditempatkan di mana saja asalkan tidak mengganggu lalu-lalang penghuni rumah. Baskom yang digunakan adalah bak plastik diameter 60 cm dengan volume air yang diisi ke dalamnya sekitar 10 l. Wadah ini dapat digunakan untuk menetaskan telur sekaligus memelihara larva sampai benih umur satu bulan.








Pada segmen penetasan telur secara konvensional, para pembudidaya hanya mendapatkan daya tetas sekitar 70%. Dengan baskom dan penerapan sistem resirkulasi, daya tetas telur dapat mencapai 90%. Selain itu, telur akan mendapatkan suplai oksigen yang cukup dan kualitas air tetap terjaga.

Penetasan telur dengan sistem resirkulasi cukup sederhana. Baskom yang sudah disusun sedemikian rupa, lalu dihubungkan menggunakan pipa paralon. Pipa paralon tersebut yang akan menyuplai dan mengalirkan air pemeliharaan secara terus-menerus. Untuk filternya dapat menggunakan bahan-bahan antara lain pasir, batu apung, arang, dan ijuk. Air dari wadah pemeliharaan akan menuju ke dalam filter untuk disaring. Air yang telah difilter akan dialirkan kembali ke dalam wadah dengan pompa. Begitu seterusnya sehingga disebut resirkulasi.


MENGHASILKAN BENIH UKURAN KUKU

Untuk menghasilkan benih ukuran kuku dari telur, langkah pertama adalah menetaskan telur terlebih dahulu. Setelah itu, baru dilakukan pemeliharaan larva sampai menjadi benih berukuran kuku. Wadah penetasan disiapkan terlebih dahulu dengan memberikan aerasi sekitar 1 - 2 jam sebelum telur dimasukkan sehingga kandungan oksigen di dalam wadah cukup tersedia.

1. Menetaskan Telur

Telur yang akan ditetaskan harus berasal dari breeder (produsen telur) terpercaya sehingga tingkat keberhasilannya lebih terjamin. Jika ditangani dengan baik, mortalitas larva dapat ditekan hingga mencapai 5-10%. Berikut kegiatan yang dilakukan pada penetasan telur.




  • Pisahkan telur mati dengan yang hidup. Jika membeli telur berupa sarang utuh, pisahkan telur dari bahan sarang secara hati-hati.
  • Sebelum dimasukkan ke dalam wadah penetasan, sebaiknya telur dihitung dahulu dengan takaran yang biasa digunakan banyak pembudidaya. Perhitungan telur akan sangat berguna karena harus sesuai dengan kapasitas wadah penetasan. Dengan demikian, padat tebar telur akan optimal.
  • Telur tidak langsung dimasukkan ke dalam akuarium atau baskom, tetapi dimasukkan dahulu ke dalam suatu wadah yang dibiarkan selama 15 menit, misalnya baskom kecil.Tujuannya adalah untuk mengondisikan suhu air di dalam wadah telur agar sama dengan suhu air di dalam akuarium atau baskom (aklimatisasi).
  • Setelah itu, masukkan telur ke dalam baskom atau akuarium pada unit resirkulasi yang berisi air bersih dengan kepadatan 100—200 butir/l air. Pastikan air di dalam unit resirkulasi benar bersih sebelum telur dimasukkan.

  • Telur akan menetas dalam waktu dua hari (36 - 48 jam).
  • Telur tidak menetas dan larva mati harus dibuang setiap hari.
  • Lama pemeliharaan di dalam sistem resirkulasi sekitar 8 - 10 hari. Selama berada dalam unit resirkulasi, larva tidak diberi pakan.
  • Semua faktor seperti suhu dan aerasi harus selalu dikontrol agar kondisi telur tetap stabil. Untuk itu, sistem resirkulasi selama proses penetasan tetap dinyalakan agar suplai oksigen tercukupi.
  • Pada hari ke-10, larva dipindah ke wadah pendederan yang sudah dipersiapkan. Pemeliharaan larva dapat dilakukan di wadah yang sama dengan mengurangi kepadatannya menjadi 5 - 10 ekor/l air.
2. Memelihara Larva

Setelah telur menetas dan berumur 8 - 10 hari, larva akan memerlukan pasokan pakan dari luar karena kuning telurnya sudah habis. Untuk itu, ada dua pilihan wadah pemeliharaan yang bisa diaplikasikan. Pertama, benih dipindah ke wadah lain yang lebih besar. Kedua, benih tetap dipelihara di dalam wadah resirkulasi, tetapi kepadatannya dikurangi menjadi lebih jarang, yaitu 5-10 ekor/l air.



Untuk menghasilkan benih ukuran kuku sejak dari telur, biasanya dibutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk ukuran kuku kelingking. Sementara itu, untuk menghasilkan benih ukuran kuku jempol, dibutuhkan waktu lebih lama, yaitu sekitar dua bulan.

Jenis pakan yang dapat diberikan pada segmen ini ada beberapa jenis. Namun, pakan alami yang banyak dipilih adalah cacing sutera. Pakan ini harus selalu ada di dalam wadah. Jadi, jika sudah habis harus segera diberikan kembali. Sebagai alternatif, dapat diberikan kutu air. Pakan lainnya adalah pakan buatan yang masih berbentuk tepung dengan kadar protein 35%. Jumlah pemberian pakan buatan sebanyak 6-10%/hari dari bio massa total benih yang ada di dalam wadah pemeliharaan. Frekuensi pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi pukul 07.00-08.00 dan sore hari pada pukul 16.00 - 17.00.





PANEN, KELINGKING ATAU JEMPOL?

Setelah pemeliharaan selama 1-2 bulan, akan diperoleh benih ukuran kuku. Banyak pelaku bisnis yang melakukan usaha di segmen ini karena masa pemeliharaannya relatif singkat. Untuk wilayah Parung - Bogor dan sekitarnya, benih ukuran tersebut sudah banyak dicari.

Waktu panen sebaiknya pada pagi hari (pukul 07.00) atau sore hari (pukul 16.00) ketika cuaca teduh. Selain itu, benih yang akan dipanen sebaiknya dipuasakan selama 1 hari sebelumnya. Untuk benih di baskom atau akuarium, panen dilakukan dengan cara mengurangi airnya dahulu. Dengan demikian, benih akan berkumpul dan mudah diambil dengan seser kecil. Panen benih ukuran kuku sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena sisiknya masih rentan lepas.

Sebelum dikemas, sebaiknya benih disortir terlebih dahulu. Hal itu karena pada satu wadah, tidak semua benih berukuran seragam.

UNTUNG ATAU RUGI

Benih berukuran kuku dapat dipanen dalam waktu 1—2 bulan dari penetasan telur. Dengan masa pemeliharaan yang relatif singkat, dapat dihasilkan keuntungan yang lumayan besar jika pemeliharaan dilakukan dengan baik. Kondisi benih pada saat dipanen juga harus sehat dan seragam. Berikut beberapa asumsi untuk mengetahui untung atau rugi usaha budidaya gurami pada segmen ukuran kuku.
  • Wadah yang digunakan berupa baskom dengan sistem resirkulasi.
  • Harga telur siap tetas Rp70,00/butir berjumlah 16.000 butir.
  • Lama pemeliharaan dua bulan dengan kelangsungan hidup 85%.
  • Tenaga kerja satu orang.
  • Harga jual gurami ukuran kuku jempol Rp550,00/ekor.





Readmore → Memilih Telur Yang Baik, Menghasilkan Benih Ukuran Kuku, Menetaskan Telur, Memelihara Larva, Panen Kelungking Atau Jempol?, Untuk Atau Rugi

Friday, September 14, 2018

Produksi Telur Ikan Gurami Siap Jual

Menghasilkan telur merupakan segmen pertama dan utama dalam budidaya gurami. Para pembudidaya melakukan pemijahan induk untuk menghasilkan telur.Telur gurami sudah bisa dijual karena termasuk telur dengan kandungan yolk tinggi sehingga daya hidupnya pun tinggi. Dengan demikian, telur bisa didistribusikan ke berbagai tempat tanpa khawatir mati dalam perjalanan, asalkan penanganannya tepat dan sesuai aturan.

## INDUK

Induk merupakan faktor penting karena jika tidak sesuai kriteria, mustahil pemijahan akan berjalan mulus. Setidaknya, para pembudidaya harus mengetahui jenis dan ciri-ciri induk berkualitas untuk dipijahkan.

1. Jenis
Jenis gurami yang banyak terdapat di pembudidaya ikan umumnya terdiri atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.
a. Blusafir. Warna agak keunguan dengan bentuk tubuh agak kecil dan pendek.
b. Angsa/paris/soang. Warna agak cerah dengan bentuk tubuh memanjang.
c. Bastar. Warna cerah kecokelatan dengan bentuk tubuh agak lebar dan tinggi.
d. Batu. Warna kehitaman dengan bentuk tubuh agak lebih kecil dan pendek.

Sebagian besar pembudidaya hanya menggunakan tiga varietas teratas, yaitu blusafir, angsa, dan bastar. Hal itu karena gurami varietas batu dianggap sangat lambat pertumbuhannya.

Induk gurami dengan kualitas nomor satu secara umum biasanya mempunyai sisik yang besar dengan urutan yang teratur, licin, dan tanpa luka (cacat). Warna tubuhnya cerah dan memiliki gerakan yang lincah dengan garis keturunan yang jelas. Para pembudidaya bisa memperoleh induk dari instansi yang sudah terdaftar di dinas perikanan. Indukjuga bisa didapatkan dari para pembudidaya yang juga sudah terdaftar dan dipilih oleh dinas perikanan untuk menghasilkan induk.

a. Jantan dan betina
Bagi para awam, penampilan gurami tidak berbeda antara jantan dan betina. Karakteristik atau perbedaan antara indukjantan dan induk betina .

Karakteristik Induk Jantan dan Betina
JANTAN
BETINA
        Tonjolan jelas di dahi
        Bibir rata/tebal
        Gerakan lincah, bentuk tubuh langsing
        Ekor akan naik jika diietakkan di tempat datar
        Tidak terdapat spot hitam di bawah sirip dada
        Tidak ada tonjolan di dahi
        Bibir tipis
        Gerakan lambat, perut besar/buncit
        Ekor hanya bergerak-gerak jika
diietakkan di tempat datar
        Terdapat spot berwarna hitam di
bawah sirip dada

b. Induk siap pijah
Setelah mengenal indukjantan dan betina, selanjutnya adalah mengetahui induk yang siap atau matang gonad untuk dipijahkan. Dengan demikian, telur yang dihasilkan berkualitas dan tingkat kelangsungan hidupnya tinggi. Jika pembudidaya membeli calon induk, perlu dimatangkan terlebih dahulu. Induk yang siap dipijahkan adalah induk dengan tingkat kematangan gonad optimal (TKG 3 atau 4) sehingga jumlah telur yang dihasilkan maksimal. Matang atau tidaknya induk akan menentukan produksi telur, baik kualitas maupun kuantitas. Faktoryang paling berpengaruh adalah pakan.
Kualitas dan kuantitas pakan harus diperhatikan, bahkan sampai cara pemberiannya. Pada umumnya, pembudidaya hanya memberikan daun-daunan saja sebagai pakan induk tanpa penambahan pakan buatan. Namun, jika terus-menerus dilakukan, daya tahan tubuhnya lemah sehingga mudah terserang penyakit dan produksi telur rendah. Sebaiknya indukjuga diberikan pakan pelet sebagai langkah pematangan gonad serta untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan produksi telurnya.


Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pematangan gonad induk gurami adalah sebagai berikut :
  1. Induk dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina. Pemeliharaan dilakukan di kolam tanah. Padat tebar induk diatur sebanyak 2-4 ekor/10 m2 dengan luas kolam 30 - 50 m2.
  2. Pakan yang diberikan berupa pelet terapung dengan jumlah 2%/hari yang kandungan proteinnya 30-35% dan daun sente 2-3%/hari. Persentase dihitung berdasarkan bobot tubuh induk.
  3. Lama pematangan gonad induk sekitar 1-1,5 bulan.
JANTAN
BETINA
Berat 2-2,5 kg/ekor
Berat 2,5-3 kg/ekor
Umur minimal 2 tahun
Umur minimal 2 tahun
Tonjolan dahi terlihat jelas
Perut membulat
Badan kekar dan lincah
Alat kelamin memerah

KOLAM DAN SARANG

Kolam mutlak diperlukan dalam pemijahan. Kolam yang bisa digunakan antara lain kolam tanah atau kolam tembok dengan dasar tanah dengan tingkat keberhasilannya yang tidak berbeda. Idealnya, pemijahan gurami dilakukan di kolam berukuran 16—25 m2 dengan kedalaman 70—80 cm. Jumlah induk yang dipijahkan adalah 2—3 set (1 set = 1 jantan, 3 betina).
Jika menggunakan kolam tanah, sebaiknya sisi pematang kolam bagian dalam dibiarkan tumbuh rumput. Hal itu untuk meningkatkan keberhasilan pemijahan. Sementara itu, bagian tengah kolam disediakan meja dari anyaman bambu untuk menempatkan bahan sarang.

MEMIJAHKAN INDUK

Berhasil atau tidaknya pemijahan tergantung pada kualitas induk, kualitas pakan, serta ketersediaan pasokan air yang memenuhi syarat pemijahan. Persiapan kolam adalah hal pertama yang dilakukan untuk memijahkan induk. Kolam harus dikondisikan sedemikian rupa agar induk mau memijah. Berikut tahapan persiapan kolam.

  • Kolam diolah dengan mencangkul dan membalikkan tanah, serta meratakan tanah dasar kolam. Kemudian, dasar kolam dikeringkan 3—5 hari. Untuk menstabilkan pH, taburkan kapur 100 g/m2.
  • Siapkan rumah sarang (sosog) yang ditancapkan di tiap sisi pematang kolam atau bisa disangga dengan bambu yang ditancapkan di dasar kolam. Namun, induk terkadang tidak membuat sarang di sosog, tetapi di pematang kolam yang ditumbuhi rumput.
  • Siapkan meja dari bambu di tengah kolam, lalu di atasnya diberi substrat (ijuk atau serat karung plastik) sebagai bahan sarang.
  • Usahakan air di dalam kolam tenang dan tidak terlalu keruh,
Pengalaman dari para pembudidaya gurami, sebaiknya meja sarang berada sedikit di atas permukaan air, sekitar 5—10 cm. Dengan kondisi tersebut, kualitas dan kuantitas telur akan lebih baik karena induk akan lebih terangsang dalam membuat sarang.


Proses pemijahan akan terjadi sejak induk dimasukkan ke dalam kolam pemijahan. Namun, pemijahan tidak akan langsung terjadi karena tergantung kondisi induk dan lingkungan kolam. Jika kondisi sudah sesuai, pemijahan akan berlangsung.

Sarang yang dibuat biasanya berbentuk bulat sebagai tempat peletakan telur. Namun, beberapa tempat kerangka sarang yang disiapkan (biasanya berupa sosog) tidak selalu digunakan induk sebagai sarang. Bisa saja induk membuat sarang di tempat lain, seperti pinggir kolam yang tidak ada sosognya. Jadi, letakkan tempat untuk bersarang sebanyak mungkin di dalam kolam, Selain itu, sisi pematang sebaiknya dibiarkan tumbuh rumput sebagai antisipasi induk membuat sarang di daerah tersebut.

Setelah sarang dibuat, kedua induk akan berkejar-kejaran, lalu saling berdampingan. Jika cocok, induk jantan akan membuat sarang. Induk betina akan mengeluarkan telur ke dalam sarang, dilanjutkan jantan mengeluarkan spermanya hingga terjadi pembuahan. Setelah proses pembuahan terjadi, selanjutnya sarang akan ditutup menyerupai bola. Setelah itu, induk jantan akan menjaga di depan mulut sarang.

Pemijahan gurami biasanya dilakukan secara massal dengan perbandingan antara jantan dan betina adalah 1 : 2—3. Dalam satu tahun, pemijahan dapat dilakukan sebanyak 4—5 kali. Untuk jumlah, gurami bastar dan paris dapat menghasilkan telur sebanyak 3.000— 7.000 butir. Untuk varietas blusaflr, jumlah telurnya lebih banyak dan dapat mencapai 8.000—12.000 butir. Pemijahan pada gurami lebih sering terjadi pada awal musim hujan.

  1. Induk dimasukkan pada sore hari. Untuk luas kolam 25 m2, kepadatan induk cukup tiga pasang (3 janan, 6-9 betina).
  2. Berikan pakan pelet terapung sebanyak 1% dikombinasikan dengan daun sente sebanyak 2-3% per hari dari bobot tubuh. Pelet diberikan 2 kali/hari, yaitu pada pagi hari (pukul 07.00-08.00) dan sore hari (pukul 16.00-17.00).
  3. Perhatikan bagian meja berisi ijuk. Jika jumlahnya berkurang kemungkinan induk sudah membuat sarang dan kemungkinan besar sudah memijah. Berdasarkan pengalaman, induk akan memijah sekitar satu minggu setelah dimasukkan ke dalam kolam pemijahan.

PANEN TELUR



Telur yang sudah dihasilkan oleh induk dapat langsung dijual ke para pendeder gurami yang ingin menghasilkan benih ukuran kuku. Untuk menghitung telur, biasanya para pembudidaya tidak menghitungnya satu per satu. Mereka memiliki takaran sebagai acuan. Takaran tersebut bermacam-macam, misalnya potongan kemasan air mineral. Ada pula alat takar khusus berbentuk kotak berukuran 4 cm x 8 cm yang dalam takaran satu kotak rata, jumlah telur gurami sekitar 1.000 butir. Dengan adanya alat takar tersebut, telur tidak rusak dan jumlahnya sesuai.

1. Pemindahan Sarang

Sebagian pembudidaya lebih banyak memanen sarang, lalu memindahkan telur ke wadah lain, misalnya ember plastik atau khusus. Pengambilan sarang harus hati-hati. Setelah sarang terangkat dari tempatnya, secepat mungkin diletakkan ke dalam wadah berisi air dari kolam induk. Penggunaan air yang bukan berasal dari air kolam dikhawatirkan memiliki suhu dan pH berbeda yang dapat mengganggu proses penetasan telur. Namun, kondisi ini dapat diperbaiki dengan memberi aerasi pada air yang sudah disiapkan selama 24 jam sebelum telur dimasukkan.

2. Memilih Telur Hidup

Setelah dipindahkan, pastikan telur yang dipilih adalah telur yang hidup. Sejumlah kecil telur yang dihasilkan pasti ada yang mati atau rusak. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain telur tidak terbuahi sperma atau telur rusak. Telur mati juga dapat diakibatkan oleh lingkungan yang tidak mendukung (suhu air, pH air, oksigen, dan bakteri), kualitas telur kurang baik bisa karena induk tidak memperoleh pakan yang tepat untuk produksi telur, perlakuan pemisahan dan pemindahan telur yang kurang hati-hati. Telur mati atau rusak dicirikan dengan warna telur kuning susu (tidak bening).

UNTUNG ATAU RUGI

Keuntungan yang diperoleh darrpanen telur cukup lumayan. Selain siklusnya cepat, uang pun cepat didapat. Investasi yang diperlukan adalah induk, kolam tanah, dan ember atau baskom-baskom kecil.

Analisis usaha gurami skala telur merupakan perhitungan untung dan rugi budidaya gurami dalam menghasilkan telur. Asumsinya sebagai berikut.
  • Satu siklus produksi memerlukan waktu dua bulan.
  • Harga induk siap pijah Rpl00.000,00/ekor.
  • Induk yang digunakan sebanyak 3 ekor jantan dan 9 ekor betina.
  • Tiap induk betina menghasilkan 6.000 butir telur sehingga jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 54.000 butir.
  • Tenaga kerja satu orang dengan gaji Rp800.000,00/siklus.
  • Harga jual telur Rp70,00/butir.
1. Investasi
Unsur Investasi
Jumlah
Harga Satuan
(Rp)
Jumlah (Rp).
Induk
12
100.000,00
1.200.000,00
Bak plastik diamater 60 cm
20
30.000,00
600.000,00
Mangkuk plastik (buah)
2
2.500,00
5.000,00
Instalasi air (set)
1
100.000,00
100.000,00
Ijuk(ikat)
5
5.000,00
25.000,00
Serokan induk (buah)
1
25.000,00
25.000,00
Bambu (batang)
5
10.000,00
50.000,00
Total Investasi

2.030.000,00
2. Biaya Produksi
Unsur Biaya
Jumlah
Harga Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
Biaya penyusutan investasi 10%

203.000,00
203.000,00
Tenaga kerja (orang)
1
800.000,00
800.000,00
Pakan induk (kg)
20
8.000,00
160.000,00
Biaya Iain-Iain

100.000,00
100.000,00
Total Biaya Produksi


1.263.000,00
Pendapatan
Pendapatan
=  harga telur x total produksi telur
=  Rp70,00 x 54.000 butir
=  Rp3.780.000,00
Keuntungan
Keuntungan
=  pendapatan - biaya produksi

=  Rp 3.780.000,00 - Rpl .263.000,00

=  Rp2.517.000,00
Kelayakan Usaha
BEP (break even point)
BEP harga
=
total biaya produksi

total produksi telur






=
Rp 1.263.000,00


54.000 ekor


=
Rp 23,4/butir



BEP harga
=
total biaya produksi



Harga telur per butir






=
Rp 1.263.000,00



Rp. 40,00


=
31.575 butir

Dari Hasil BEP tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya gurami skala telur akan berada pada titik impas jika telur dijual dengan Rp. 23,4 per butir atau jumlah yang dijual sebanyak 31.575 butir.

R/C (Revenue Cost Ratio)
R/C
=
Pendapatan

total produksi telur






=
Rp 3.780.000,00


Rp. 1.263.000,00


=
2,9



Nilai 2,9 menunjukkan bahwa setiap Rp. 1.000,00 yang dikeluarkan dalam usaha budidaya gurame skala telur ini, akan diperoleh pendapatan Rp. 2.900,00.



Readmore → Produksi Telur Ikan Gurami Siap Jual