Saturday, October 13, 2018

Memilih Telur Yang Baik, Menghasilkan Benih Ukuran Kuku, Menetaskan Telur, Memelihara Larva, Panen Kelungking Atau Jempol?, Untuk Atau Rugi

Bagi para pemula di budidaya gurami, memulai usaha dapat dilakukan dengan membeli telur. Setelah itu, pembudidaya menetaskan telur dan membesarkannya sampai ukuran kuku (0,5 - 1 g/ekor). Benih ukuran tersebut sudah bisa dijual karena banyak ditunggu oleh konsumen.

MEMILIH TELUR YANG BAIK

Telur gurami bisa didapatkan dengan membelinya dari pembenih. Namun untuk mengetahui kualitas telur yang baik, pembudidaya harus mengetahui kriterianya. Ciri-ciri telur gurami yang baik antara lain berwarna kuning bening/transparan. Selain itu, telur yang hidup dan sehat biasanya akan berjumlah 100 butir jika diletakkan secara horizontal sepanjang 25 cm. Sementara itu, telur yang rusak memiliki warna kuning.
susu dan tidak transparan.Telur yang mati sebaiknya segera dibuang karena akan segera ditumbuhi jamur dan bisa menulari telur lain jika tidak segera dipisahkan.
B. WADAH
Wadah yang dapat digunakan bisa berupa baskom, potongan drum, akuarium, kolam terpal, kolam tanah, atau kolam beton. Semua wadah tersebut tentu saja dapat dibangun atau di-setting di pekarangan rumah.

Drum atau toren yang digunakan sebagai wadah penetasan dan perawatan larva sebaiknya dibelah menjadi dua sehingga penggunaannya lebih praktis dan tidak memakan tempat. Sementara jika menggunakan akuarium sebagai wadahnya, proses persiapannya cukup mengisi air sampai batas optimal. Kemudian, diaerasi untuk menaikkan kandungan oksigen terlarut dan menstabilkan kondisi air. Untuk telur, tinggi air dalam akuarium cukup 10-15 cm. Sementara itu, untuk pemeliharaan larva sampai menjadi benih berukuran kuku, tinggi air di dalam akuarium cukup setinggi 30-40 cm.

Pada penggunaan kolam tanah, biasanya baru diaplikasikan pada telur yang sudah menetas menjadi larva dan berumur 8-10 hari. Benih ditebar dengan kepadatan sekitar 150-200 ekor/m2. Untuk kolam beton dan kolam terpal aplikasinya tidak terlalu jauh berbeda dari kolam tanah. Perbedaannya terletak pada bahan pembuat, kepraktisan, dan daya tahannya.

Dari semua wadah yang telah disebutkan, baskom bisa dijadikan pilihan utama sebagai wadah penetasan telur. Selain investasinya murah, penggunaannya lebih efektif jika mengacu pada lahan yang sempit. Baskom dapat ditempatkan di mana saja asalkan tidak mengganggu lalu-lalang penghuni rumah. Baskom yang digunakan adalah bak plastik diameter 60 cm dengan volume air yang diisi ke dalamnya sekitar 10 l. Wadah ini dapat digunakan untuk menetaskan telur sekaligus memelihara larva sampai benih umur satu bulan.








Pada segmen penetasan telur secara konvensional, para pembudidaya hanya mendapatkan daya tetas sekitar 70%. Dengan baskom dan penerapan sistem resirkulasi, daya tetas telur dapat mencapai 90%. Selain itu, telur akan mendapatkan suplai oksigen yang cukup dan kualitas air tetap terjaga.

Penetasan telur dengan sistem resirkulasi cukup sederhana. Baskom yang sudah disusun sedemikian rupa, lalu dihubungkan menggunakan pipa paralon. Pipa paralon tersebut yang akan menyuplai dan mengalirkan air pemeliharaan secara terus-menerus. Untuk filternya dapat menggunakan bahan-bahan antara lain pasir, batu apung, arang, dan ijuk. Air dari wadah pemeliharaan akan menuju ke dalam filter untuk disaring. Air yang telah difilter akan dialirkan kembali ke dalam wadah dengan pompa. Begitu seterusnya sehingga disebut resirkulasi.


MENGHASILKAN BENIH UKURAN KUKU

Untuk menghasilkan benih ukuran kuku dari telur, langkah pertama adalah menetaskan telur terlebih dahulu. Setelah itu, baru dilakukan pemeliharaan larva sampai menjadi benih berukuran kuku. Wadah penetasan disiapkan terlebih dahulu dengan memberikan aerasi sekitar 1 - 2 jam sebelum telur dimasukkan sehingga kandungan oksigen di dalam wadah cukup tersedia.

1. Menetaskan Telur

Telur yang akan ditetaskan harus berasal dari breeder (produsen telur) terpercaya sehingga tingkat keberhasilannya lebih terjamin. Jika ditangani dengan baik, mortalitas larva dapat ditekan hingga mencapai 5-10%. Berikut kegiatan yang dilakukan pada penetasan telur.




  • Pisahkan telur mati dengan yang hidup. Jika membeli telur berupa sarang utuh, pisahkan telur dari bahan sarang secara hati-hati.
  • Sebelum dimasukkan ke dalam wadah penetasan, sebaiknya telur dihitung dahulu dengan takaran yang biasa digunakan banyak pembudidaya. Perhitungan telur akan sangat berguna karena harus sesuai dengan kapasitas wadah penetasan. Dengan demikian, padat tebar telur akan optimal.
  • Telur tidak langsung dimasukkan ke dalam akuarium atau baskom, tetapi dimasukkan dahulu ke dalam suatu wadah yang dibiarkan selama 15 menit, misalnya baskom kecil.Tujuannya adalah untuk mengondisikan suhu air di dalam wadah telur agar sama dengan suhu air di dalam akuarium atau baskom (aklimatisasi).
  • Setelah itu, masukkan telur ke dalam baskom atau akuarium pada unit resirkulasi yang berisi air bersih dengan kepadatan 100—200 butir/l air. Pastikan air di dalam unit resirkulasi benar bersih sebelum telur dimasukkan.

  • Telur akan menetas dalam waktu dua hari (36 - 48 jam).
  • Telur tidak menetas dan larva mati harus dibuang setiap hari.
  • Lama pemeliharaan di dalam sistem resirkulasi sekitar 8 - 10 hari. Selama berada dalam unit resirkulasi, larva tidak diberi pakan.
  • Semua faktor seperti suhu dan aerasi harus selalu dikontrol agar kondisi telur tetap stabil. Untuk itu, sistem resirkulasi selama proses penetasan tetap dinyalakan agar suplai oksigen tercukupi.
  • Pada hari ke-10, larva dipindah ke wadah pendederan yang sudah dipersiapkan. Pemeliharaan larva dapat dilakukan di wadah yang sama dengan mengurangi kepadatannya menjadi 5 - 10 ekor/l air.
2. Memelihara Larva

Setelah telur menetas dan berumur 8 - 10 hari, larva akan memerlukan pasokan pakan dari luar karena kuning telurnya sudah habis. Untuk itu, ada dua pilihan wadah pemeliharaan yang bisa diaplikasikan. Pertama, benih dipindah ke wadah lain yang lebih besar. Kedua, benih tetap dipelihara di dalam wadah resirkulasi, tetapi kepadatannya dikurangi menjadi lebih jarang, yaitu 5-10 ekor/l air.



Untuk menghasilkan benih ukuran kuku sejak dari telur, biasanya dibutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk ukuran kuku kelingking. Sementara itu, untuk menghasilkan benih ukuran kuku jempol, dibutuhkan waktu lebih lama, yaitu sekitar dua bulan.

Jenis pakan yang dapat diberikan pada segmen ini ada beberapa jenis. Namun, pakan alami yang banyak dipilih adalah cacing sutera. Pakan ini harus selalu ada di dalam wadah. Jadi, jika sudah habis harus segera diberikan kembali. Sebagai alternatif, dapat diberikan kutu air. Pakan lainnya adalah pakan buatan yang masih berbentuk tepung dengan kadar protein 35%. Jumlah pemberian pakan buatan sebanyak 6-10%/hari dari bio massa total benih yang ada di dalam wadah pemeliharaan. Frekuensi pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi pukul 07.00-08.00 dan sore hari pada pukul 16.00 - 17.00.





PANEN, KELINGKING ATAU JEMPOL?

Setelah pemeliharaan selama 1-2 bulan, akan diperoleh benih ukuran kuku. Banyak pelaku bisnis yang melakukan usaha di segmen ini karena masa pemeliharaannya relatif singkat. Untuk wilayah Parung - Bogor dan sekitarnya, benih ukuran tersebut sudah banyak dicari.

Waktu panen sebaiknya pada pagi hari (pukul 07.00) atau sore hari (pukul 16.00) ketika cuaca teduh. Selain itu, benih yang akan dipanen sebaiknya dipuasakan selama 1 hari sebelumnya. Untuk benih di baskom atau akuarium, panen dilakukan dengan cara mengurangi airnya dahulu. Dengan demikian, benih akan berkumpul dan mudah diambil dengan seser kecil. Panen benih ukuran kuku sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena sisiknya masih rentan lepas.

Sebelum dikemas, sebaiknya benih disortir terlebih dahulu. Hal itu karena pada satu wadah, tidak semua benih berukuran seragam.

UNTUNG ATAU RUGI

Benih berukuran kuku dapat dipanen dalam waktu 1—2 bulan dari penetasan telur. Dengan masa pemeliharaan yang relatif singkat, dapat dihasilkan keuntungan yang lumayan besar jika pemeliharaan dilakukan dengan baik. Kondisi benih pada saat dipanen juga harus sehat dan seragam. Berikut beberapa asumsi untuk mengetahui untung atau rugi usaha budidaya gurami pada segmen ukuran kuku.
  • Wadah yang digunakan berupa baskom dengan sistem resirkulasi.
  • Harga telur siap tetas Rp70,00/butir berjumlah 16.000 butir.
  • Lama pemeliharaan dua bulan dengan kelangsungan hidup 85%.
  • Tenaga kerja satu orang.
  • Harga jual gurami ukuran kuku jempol Rp550,00/ekor.





No comments:

Post a Comment